Iklan

LMNI Mendorong Partisipasi Publik Melek Pemilu


Jakarta, Nusantaratalk.Id -  Berdasarkan Putusan Mahkamah Konstitusi (MK) Nomor 67/PUU-XIX/2021, desain pemilihan umum (pemilu) serentak secara nasional yang dipilih oleh pembentuk undang-undang pada 2024 mendatang adalah pemilu serentak dalam dua tahap.

Tahap pertama yaitu pemilu serentak untuk memilih Anggota DPR, DPD, Presiden/Wakil Presiden, dan Anggota DPRD. Tahap kedua, pemilihan kepala daerah (pilkada) serentak secara nasional.

Adanya sinkronisasi waktu penyelenggaraan, baik pemungutan suara maupun pelantikan pasangan calon terpilih diharapkan tercipta efektivitas dan efisiensi kebijakan pembangunan antara daerah dan pusat.

Masyarakat Kepulauan Nias (Ono Niha) dalam menyambut pesta demokrasi terbesar di dunia ini harus terpanggil, tergugah dan bertanggung jawab mengarahkan hak pilihnya untuk memilih calon legislatif baik tingkat kabupaten/kota, provinsi dan pusat yang layak dan pantas sesuai rekam jejak, kapasitas, dedikasi, loyalitas, integritas, serta pengabdian pelayanan kepada masyarakat.

Masyarakat Nias harus dan mutlak proaktif, responsif dan produktif memilih calon-calon legislatif yang memiliki track record yang terbukti dan teruji membela, menyuarakan dan memperjuangkan aspirasi masyarakat.

Jejak rekam yang baik, integritas, kapasitas dan kapabilitas para calon legislatif menjadi sangat penting, krusial dan strategis dalam menggunakan hak pilih. Bila salah memilih maka yang sangat dirugikan adalah masyarakat.

Kepulauan Nias yang terdiri dari lima kabupaten kota menjadi penyumbang kantong kemiskinan dan stunting ekstrim.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), Nias Barat merupakan kabupaten/kota di Sumatera Utara dengan tingkat kemiskinan tertinggi, yakni mencapai 26,42% dari total penduduk. Diikuti Kabupaten Nias Utara dengan angka kemiskinan 25,66%. Artinya, 1 dari 4 penduduk di kedua kabupaten di tersebut hidup di bawah garis kemiskinan.

Kemudian sebanyak 16,92% penduduk di Kabupaten Nias Selatan di bawah garis kemiskinan. Sementara persentase penduduk miskin di Kabupaten Nias sebesar 16,82%. Untuk itu, masyarakat Kepulauan Nias terpanggil, bertanggung jawab secara moral, tergugah batin dan jiwanya untuk merdeka dari kemiskinan dan stunting termasuk ketertinggalan tersebut.

Dalam menyikapi perkembangan politik saat ini,  Liga Mahasiswa Nias Indonesia (LMNI) menggelar Diskusi Publik dengan Tema “Pesta Demokrasi 2024 : Kemanakah Arah Suara Ono Niha?” yang didirikan oleh Aktivis Pemuda Edizaro Lase dan Ketua BEM STIH Prof. Gayus Lumbuun, Berkat S. Hulu. 

Hadir Ketua Komunitas Mahasiswa Sumatera Utara (KMSU), Sukma Wijaya Hasibuan dan Puteri Indonesia Sumatera Utara 2023 Tabitha Napitupulu, di diskusi Kopi dan Ruang Berbagi Kawi, Jakarta Selatan, Jumat (18/7/2023).

Sementara itu, Puteri Indonesia Sumut 2023 Tabitha Napitupulu mengatakan faktor penting peningkatan kualitas demokrasi adalah tersedianya sumber daya manusia yang mumpuni.

Sebut Tabitha saat ini wilayah Nias menjadi salah satu daerah penyumbang angka kemiskinan dan stunting yang tinggi di Indonesia.

“Isu pencegahan stunting ini sudah jadi prioritas kebijakan nasional. Maka itu perlu gerak cepat dan aksi dari Pemerintah khususnya Kementerian Kesehatan di bidang pendidian, ekonomi dan kesehatan. Stunting itu erat hubungannya dengan faktor ekonomi yang rendah yang menyebabkan kemiskinan selain faktor kriminalitas,” jelasnya.

Tabitha juga menyebut pentingnya keterbukaan informasi publik dalam rangka meningkatkan kualitas masyarakat dalam rangka pengambilan kebijakan dan keputusan yang tepat. Untuk itu dia mengajak anak muda bersama sama dan bergotong royong meningkatkan awareness masyarakat lewat sosialisasi UU No. 14 Tahun 2008.

“Selain tugas dan kewajiban Pemerintah, saya melihat peran serta masyarakat terutama anak muda sangat penting mensukseskan ketersediaan informasi bagi masyarakat. Ayo kita mulai dari sendiri untuk kerja melayani agar terciptanya kualitas demokrasi itu sendiri,” paparnya.

Sedangkan Sukma Wijaya Hasibuan mengatakan ajang Pemilu 2024 diikuti dan didominasi pemilih muda. Sekitar 60% yang menjadi pemilih adalah anak muda.

“Yang paling penting bagaimana anak muda itu menjadi pemilih yang jujur dan berintegritas. Karena merekalah yang kelak menentukan arah dari bangsa dan negara ini,” ujarnya.

Sukma Hasibuan berharap pada Pemilu 2024 yang akan datang para pemuda menjadi agent of change.

“Semua anak muda harus ikut serta dalam Pemilu. Ternyata dari data yang ada dominan Golput adalah anak muda. Itulah gunanya pendidikan dan literasi bagi anak muda supaya mereka menjadi partisipan yang bertanggung jawab agar Pemilu bisa menghasilkan Wakil Rakyat dan Kepala Daerah yang baik,” ucapnya.

Sukma menganggap politik transaksional seperti mahar atau money politic menjadi faktor penghambat terciptanya pemilu yang bersih dan berintegritas.

“Ini yang harus kita hindari, supaya kita menghasilkan Pemilu yang berintegritas. Kepada mahasiswa saya menghimbau yuk mari ikut Pemilu supaya lahir Politisi, Pemimpin dan Wakil Rakyat yang jujur, bersih dan berintegritas,” tuturnya. (Kornel)

Lebih baru Lebih lama